4 pertanyaan untuk hobi yang menjadi bisnis
0 Comments Published by Dhyan Ha on Tuesday, September 01, 2009 at 2:47 PM.
Hari ini kami mau berbagi informasi mengenai hal-hal apa saja yang perlu Anda ketahui sebelum terjun ke dunia bisnis yang berasal dari hobi. Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat untuk Anda :-)Memang sih, KELEBIHAN dari membuka bisnis yang berasal dari hobi, kita tahu betul bahwa kita akan menikmatinya. Kita juga akan merasa lebih 'fun' dalam mengerjakannya. Jauuhhh..dari rasa bosen! :-)
Tapi apa benar begitu? Sebelum memutuskan untuk membuat hobi Anda menjadi bisnis, coba ajukan pertanyaan-pertanyaan ini ke diri sendiri terlebih dulu.
1. Apakah Anda bersedia melakukan sesuatu yang berulang-ulang terus?
Diharuskan mengerjakan sesuatu secara berulang-ulang dengan baik tentu sangat berbeda dengan mengerjakan aktivitas rekreasi (hobi) tanpa tekanan dan tanpa target bisnis.
Tentu saja jika ingin mengubah hobi menjadi bisnis, Anda harus siap dengan konsekuensi ini.
2. Apakah hobi Anda cukup berharga untuk dijadikan bisnis?
Jangan hanya memikirkan kesenangan Anda semata. Lakukan "market research" sebelum membuat hobi Anda menjadi bisnis.
Jika ternyata prospeknya kurang menguntungkan, sebaiknya jangan dipaksakan. :-)
3. Apakah hobi Anda bisa tetap memotivasi Anda dalam menjalankan bisnis hingga 15-20 tahun mendatang?
Tantangan nyata dalam menjalani bisnis yang berasal dari hobi adalah bagaimana membuat hobi tersebut tetap menantang, menarik dan berarti sebagai bisnis dalam 15-20 tahun mendatang. Untuk itu, buat daftar mengenai hal-hal yang paling menarik dan menantang bagi Anda. Lalu tetapkan satu atau dua ide paling potensial yang bisa memotivasi Anda dalam menjalankan bisnis.
4. Apakah Anda tetap akan menikmatinya walau...
Jika kelak Anda diharuskan menghasilkan 10 ribu karya atau melakukan hobi Anda ratusan kali setiap tahun, apakah Anda akan tetap menikmati hobi Anda?
Intinya, memang tidak ada yang salah dengan membuat hobi menjadi bisnis. Hanya saja matangkan konsep, lakukan market research dan rancang business plan sebelum menjalankannya.
Hal penting lainnya adalah memiliki pengetahuan bagaimana memasarkan bisnis Anda baik secara offline maupun online.
Karena tanpa marketing yang tepat, tidak ada orang yang akan membeli produk Anda.
Baca selengkapnya.....
Aku tinggalkan anak-anaku Demi Islam
1 Comments Published by Dhyan Ha on Thursday, August 27, 2009 at 10:51 AM.
Meski pedih, ia hancurkan rasa cinta kepada dua putranya tersayang, karena Kavita lebih memilih cintanya kepada IslamHidayatullah.com
Namaku dulu adalah Kavita, dan nama panggilanku Poonam. Setelah memeluk Islam, aku bernama Nur Fatima. Usiaku 30-an tahun. Tapi aku merasa baru berumur lima tahun, karena pengetahuanku tentang Islam tidak melebihi pengetahuan anak usia 5 tahun
Aku dulu bersekolah di Mumbai, di sebuah sekolah yang cukup besar khusus untuk anak-anak dari keluarga bangsawan. Kemudian aku melanjutkan pendidikan ke Universitas Cambridge. Setelah menyelesaikan program master, aku mengambil banyak kursus komputer.
Aku menyesal, banyak gelar duniawi yang sudah diraih, tapi aku belum melakukan apapun untuk kehidupan akhirat. Sekarang aku ingin melakukan sesuatu untuk akhiratku.
Lingkungan tempat aku dibesarkan, adalah lingkungan Hindu ekstrimis yang sangat membenci Islam. Keluargaku bagian dari dari organisasi Hindu garis keras, Shiv Sena.
Aku menikah di Mumbai, dan memiliki dua orang putra. Bersama suami dan anak-anak, kami kemudian pindah ke Bahrain.
Aku memeluk Islam setelah menikah, tapi aku sudah tidak meyukai menyembah dewa-dewa pujaanku sejak aku beranjak dewasa. Aku ingat, suatu hari aku membuang sesembahanku ke kamar mandi. Ketika ibu menegur aku, kukatakan padanya bahwa benda-benda itu tidak bisa melindungi diri mereka sendiri. Jadi mengapa kita meminta berkah dari mereka, menyembah mereka. Apa yang bisa mereka berikan kepada kita?
Ada sebuah ritual di keluarga kami, jika seorang gadis sudah menikah, maka ia membasuh kaki suaminya, lalu meminum air basuhannya. Tapi aku menolak melakukan hal itu sejak hari pertama menikah. Karena itu aku dimarahi habis-habisan.
Ketika masih sendiri aku pernah mengikuti sekolah pendidikan guru, dan aku suka mengendarai mobil sendirian. Aku kadang mengunjungi sebuah Islamic Center terdekat. Di sana, aku mendengarkan pembicaraan orang, dan akhirnya mengetahui bahwa orang Islam tidak menyembah dewa.
Mereka tidak mencari karunia dari seseorang yang lain. Mereka tidak punya Baghawan. Aku suka cara pandang mereka. Pada akhirnya aku mengetahui, yang mereka sembah ternyata adalah Allah, Yang Mengurus segala sesuatu.
Aku terkesan sekali dengan shalat. Awalnya aku tidak tahu itu adalah cara orang Islam berdoa. Yang aku tahu orang Islam sering melakukannya. Dulu kusangka itu semacam olahraga. Aku baru mengetahui gerakan itu dinamakan shalat ketika mulai mengunjungi Islamic Center.
Aku sering bermimpi setiap kali tidur. Aku melihat ada sebuah ruangan persegi empat. Mimpi itu selalu mengganggu tidurku dan membuat aku terbangun dalam keadaan berkeringat. Ruangan yang sama selalu muncul dalam mimpi ketika aku tidur kembali.
Setelah menikah aku pindah ke Bahrain, tempat yang membantu aku memahami Islam dengan lebih baik. Karena itu adalah sebuah negara Muslim, maka aku dikelilingi oleh tetangga Muslim. Aku berteman dengan seorang Muslimah. Ia jarang mengunjungiku, tapi aku sering mengunjunginya.
Suatu hari ia melarang aku mengunjungi rumahnya, karena waktu itu bulan Ramadhan, bulan untuk beribadah. "Ibadahku terganggu karena kamu berkunjung ke rumah," begitu katanya.
Aku sangat ingin tahu tentang ibadah ritual yang dilakukan orang Islam. Oleh karena itu aku memintanya untuk tidak melarangku berkunjung ke rumahnya. Aku berkata, "Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Aku hanya akan melihat apa yang kamu lakukan. Aku tidak akan berkata apapun, dan hanya akan mendengar apa yang kamu baca." Maka ia pun tidak melarangku berkunjung ke rumahnya.
Ketika aku melihatnya sedang beribadah, aku tertarik untuk menirukannya. Kemudian aku bertanya padanya tentang "gerak badan" itu. Ia memberitahu, itu namanya shalat. Dan buku yang selalu ia baca, adalah kitab suci Al-Quran.
Aku berharap bisa melakukan semua yang ia lakukan. Aku pulang ke rumah dan mengunci diri dalam kamar. Aku meniru semua apa yang dilakukan temanku secara diam-diam, meskipun aku tidak tahu banyak mengenai hal itu.
Suatu hari aku lupa mengunci kamar dan melakukan shalat, ketika itu suamiku masuk. Ia bertanya, apa yang aku lakukan. Aku bilang, "Aku melakukan shalat." Ia pun berkata, "Apakah kamu masih waras? Kamu tahu apa yang kamu katakan?"Awalnya aku ragu. Mataku terpejam dan ketakutan. Tapi tiba-tiba, aku merasa ada sebuah kekuatan besar dalam diriku, yang membuat aku berani untuk menghadapi situasi saat itu. Aku berkata bahwa aku sudah memeluk agama Islam, dan karena itu aku melakukan shalat.Suamiku berseru, "Apa?! Apa kamu bilang? Coba kamu katakan sekali lagi?" Aku mengulangi ucapanku, sambil memberi tekanan, "Ya! Aku masuk Islam." Mendengar hal itu ia langsung memukuli aku.Kakakku mendengar suara ribut-ribut dan mendatangi kami. Ia berusaha menyelamatkan aku. Tapi, ketika suamiku menceritakan semuanya, ia pun maju dan ikut memukuli aku.Aku berusaha menghentikannya dengan berkata, "Kamu tidak perlu ikut campur. Aku tahu apa yang baik dan apa yang buruk buatku. Aku telah memilih jalanku."Mendengar perkataanku itu, suamiku semakin naik pitam. Ia menyiksaku sedemikian rupa hingga aku tidak sadarkan diri.
Ketika itu semua terjadi, kedua putraku berada di rumah. Saat itu putra pertamaku berusia 9 tahun dan adiknya 8 tahun.Tapi setelah peristiwa itu, aku tidak diperbolehkan bertemu siapapun. Aku dikurung dalam sebuah ruangan. Meskipun sebenarnya belum benar-benar memeluk Islam, tapi aku selalu mengatakan bahwa aku telah masuk Islam.
Suatu malam, ketika aku masih dikurung, putra sulungku datang dan menangis dalam pelukanku. Aku bertanya, kemana anggota keluarga yang lain. Ia bilang mereka semua pergi mengunjungi sebuah acara. Tak ada seorang pun di rumah. (Malam itu ada sebuah festival keagamaan).
Putraku minta agar aku kabur dari rumah, karena keluargaku akan membunuhku. Aku katakan padanya, bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi. Mereka tidak akan menyakiti aku. Dan kukatakan pada putraku, agar ia menjaga dirinya sendiri dan juga adiknya.
Tapi ia terus memaksa dan memohon agar aku meninggalkan rumah. Aku berusaha membuatnya mengerti, jika aku pergi maka aku tidak bisa bertemu dirinya dan adiknya. Namun ia menjawab, aku akan bisa menemui mereka jika aku masih hidup. "Pergilah mama, mereka akan membunuhmu," katanya.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Aku tak bisa melupakan peristiwa itu, ketika putra pertamaku membangunkan adiknya dan berkata, "Bangunlah. Mama akan pergi meninggalkan rumah. Temuilah ia sekarang, karena kita tidak tahu apakah kita akan berjumpa lagi dengannya atau tidak."
Itu pertama kali si bungsu melihatku setelah kami tak jumpa sekian lama. Ia mengusap-usap matanya ketika melihatku. Ketika aku mendekatinya, ia pun memelukku dan menangis tersedu-sedu. Anak-anak mungkin sudah mengetahui semuanya. Ia hanya berkata, "Mama akan pergi?" Aku hanya mengangguk, dan meyakinkannya jika kami akan bertemu lagi.
Aku merasa meremukkan cinta seorang ibu dengan kakiku. Di satu tangan aku menggenggam cinta anak-anakku, dan di tangan lain aku menggenggam cintaku pada Islam yang akan menggantikannya. Aku merintih dan memeluk erat anak-anakku. Aku berusaha menghancurkan cintaku pada mereka.
Luka-lukaku masih segar, aku tidak bisa berjalan. Namun aku berusaha untuk melakukannya.
Kedua putraku menyaksikan kepergianku malam itu, di malam yang gelap dan dingin. Mereka melambaikan tangan sambil menangis di pintu gerbang.
Aku tidak bisa melupakan saat-saat itu. Setiap kali aku mengingatnya, aku teringat orang-orang yang telah meninggalkan rumah dan keluarga mereka demi untuk Islam.
Setelah meninggalkan rumah, aku langsung menuju ke kantor polisi. Masalahku saat itu, mereka tidak mengerti bahasaku. Untungnya, seorang di antara mereka bisa berbahasa Inggris.
Saat itu aku sulit bernapas dan tidak bisa bicara karena gemetaran. Aku memintanya agar mengizinkanku beristirahat sampai aku bisa memulihkan keadaanku.
Tak lama kemudian aku pun pulih. Aku katakan padanya kalau aku meninggalkan rumah dan ingin memeluk Islam. Aku ragu-ragu untuk menceritakan semua kejadian yang sebenarnya. Namun polisi itu berusaha menenangkanku dan berkata bahwa ia seorang Muslim, ia akan membantuku semaksimal mungkin. Kemudian aku diajak pulang ke rumahnya dan diberi tempat menginap di sana.
Pagi harinya, suamiku mendatangi kantor polisi meminta bantuan. Ia mengatakan bahwa istrinya telah diculik. Tapi kemudian dikatakan kepadanya bahwa istrinya tidak diculik. Istrinya datang sendiri ke kantor polisi. Karena ia ingin memeluk Islam, maka suaminya tidak lagi memiliki hubungan dengannya karena berbeda agama. Jadi istrinya tidak boleh pergi dengannya.
Suamiku memaksa, dan mulai mengancam. Tapi aku sendiri menolak untuk pergi bersamanya. Aku mengatakan bahwa ia boleh mengambil semua perhiasanku, tabungan, dan rumah milikku. Tapi aku tidak akan pergi dengannya.Awalnya ia tidak menyerah. Namun, karena melihat kegigihanku menolaknya, ia pun minta dibuatkan pernyataan tertulis bahwa ia mendapatkan semua harta bendaku.Polisi yang menolongku berkata bahwa sekarang keluargaku tidak bisa menyakitiku lagi, dan aku bisa memeluk Islam. Aku berterima kasih padanya, lalu pergi ke rumah sakit, karena seluruh badanku penuh dengan luka.Aku tinggal beberapa hari di rumah sakit. Suatu hari seorang dokter bertanya, "Dari mana asalmu? Tidak ada seorang anggota keluarga pun yang datang menjengukmu ke rumah sakit." Aku diam, tidak menjawab. Sebab aku meninggalkan rumah karena mencari satu hal. Dan sekarang aku tidak memiliki rumah atau keluarga. Yang aku miliki hanya Islam.
Polisi Muslim yang menolongku, ia memanggilku sebagai seorang saudara perempuan. Dan ketika aku berada di rumahnya, ia memperlakukanku seperti saudara kandungnya. Ia telah memberiku tempat berteduh di malam yang dingin, ketika aku kehilangan seluruh keluargaku. Aku tidak akan pernah melupakan jasanya.
Dan ketika aku berada di rumah sakit, aku bingung. Apa selanjutnya yang harus aku lakukan? Kemana aku harus mencari tempat berlindung yang aman.Setelah keluar dari rumah sakit, aku langsung pergi ke Islamic Center. Saat itu tidak ada seorang pun, hanya ada seorang bapak tua yang sepertinya tinggal di sana. Aku menemuinya, dan kukatakan maksud kedatanganku. Sejenak ia merasa ragu, lalu berkata, "Nak, sari ini bukanlah pakaian seorang Muslimah. Pergi dan pakailah kerudung, tutupilah dirimu sebagaimana orang Muslim."Aku mempunyai sisa uang yang kubawa ketika meninggalkan kantor polisi. Kubeli seperangkat pakaian dengan uang itu, lalu kembali ke Islamic Center.
Pak tua itu mengajariku cara berwudhu. Setelah aku berwudhu, ia membawaku ke sebuah ruangan. Ketika memasuki ruangan itu, aku melihat sebuah gambar tergantung di dinding. Aku terdiam, karena aku melihat ruangan seperti yang ada dalam mimpiku. Seketika aku berseru, "Ini yang sering aku lihat dalam mimpiku. Yang selalu mengganggu tidurku."
Pak tua tersenyum, ia berkata bahwa itu adalah rumah Allah. Muslim dari seluruh penjuru dunia datang ke rumah itu untuk melakukan haji dan umrah. Namanya Baitullah. Aku terkejut mengetahuinya. Aku pun bertanya, "Apakah Allah tinggal di sebuah rumah?" Ia menjawab, pertanyaan-pertanyaanku dengan senyum dan penuh perhatian. Sepertinya ia tahu banyak tentang Islam.
Aku tidak mengalami kesulitan berbicara dengannya. Ia menjelaskan setiap hal dalam bahasa ibuku. Aku merasakan kebahagiaan yang aneh saat itu.Ia membimbingku mengucapkan syahadat. Kemudian menjelaskan tentang Muslim dan Islam. Setelah itu aku merasa tidak takut dan juga tidak ada beban dalam pikiranku. Aku merasa diriku sangat cerah. Rasanya seperti berenang di tempat kotor, lalu pindah ke dalam air yang jernih.
Pengelola Islamic Center itu mengangkatku sebagai anak, dan membawaku pulang ke rumahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikahkah aku dengan seorang Muslim. Keinginan pertamaku saat itu adalah melihat rumah Allah. Lalu aku pun pergi melakukan umrah.
Setelah aku memeluk Islam, aku tidak pernah kembali ke India, dan aku pun tidak ingin pergi ke sana. Keluargaku mempunyai hubungan dengan organisasi-organisasi politik dan Hindu di sana. Mereka bahkan telah menawarkan sejumlah uang untuk kepalaku.
Dulu aku diberitahu bahwa mujahidin adalah orang-orang yang suka menindas. Dan mereka sering melakukan penindasan melewati batas. Kami dibuat agar membenci mujahidin. Tapi sekarang aku telah mendapatkan kebenaran, dan aku mencintai mereka. Kuucapkan doa untuk mujahidin dalam setiap shalatku.
Aku juga berdoa kepada Allah, jika Ia mengaruniaiku dengan anak-anak laki-laki, aku akan sangat bahagia jika melihat mereka ada dalam barisan para mujahid. Aku akan mempersembahkan mereka untuk kejayaan Islam. Insya Allah.
[di/iw/www.hidayatullah.com]
Labels: islam
Baca selengkapnya.....
Bagaimanapun, untuk menjadi entrepreneur, tak cukup memiliki pengetahuan tentang bisnis. Karakter atau jiwa entrepreneur juga sangat dibutuhkan. Karena itu penting sekali mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut pada diri Anda sendiri untuk mengetahui seberapa besar karakter entrepreneur Anda.1. Berapa besar komitmen Anda?
Seorang entrepreneur sukses memiliki komitmen yang besar terhadap bisnisnya. Mudah dipahami memang, tapi sulit dalam prakteknya. Jika Anda masih berangan-angan memiliki bisnis sendiri dan belum memulainya, barangkali Anda mesti memperkuat komitmen Anda dan siap dengan segala resikonya. Bagaimanapun, tak satupun bisnis di dunia ini yang aman dari resiko. Walau begitu, resiko juga bisa dimanajemen bukan?! :-)
2. Apakah gelas Anda setengah penuh atau setengah kosong?
Tidak semua orang optimis adalah entrepreneur, tetapi hampir semua entrepreneur adalah orang-orang optimis.Setiap entrepreneur biasanya memiliki kemampuan melihat kesempatan positif dari suatu tantangan situasi. Tanpa keyakinan optimistis, maka akan sulit memotivasi karyawan,bertahan pada masa-masa sulit dan mengembangkan bisnis.
3. Apakah Anda senang membuat keputusan?
Keputusan berarti komitmen. Keputusan yang salah bisa mengarah pada masalah dan menghilangkan rasa hormat dari suatu kelompok.
Memiliki sebuah bisnis -khususnya yang modalnya tidak besar-berarti harus siap membuat keputusan dengan market research terbatas dan informasi yang kurang lengkap. Nah, kira-kira
apakah Anda senang membuat keputusan-keputusan demikian?
4. Apakah Anda memiliki uang untuk membuat cita-cita bisnis Anda terwujud?
Jangan berhenti dulu dari pekerjaan sehari-hari, sampai Anda memiliki modal yang cukup untuk kelangsungan bisnis. Memenuhi kebutuhan keuangan untuk bisnis tidaklah mudah dan perlu
pengorbanan pribadi apakah itu dari tabungan, pinjaman bank, dll-. Anda juga harus siap jika ternyata ada yang tidak berjalan sesuai rencana. Nah, apakah Anda sanggup menyokong kelangsungan business plan agar bisnis Anda tetap bertahan?
5. Apakah Anda senang menjual?
Dalam bisnis, penjualan adalah bagian alami dari segala pekerjaan bahkan jika mereka tidak pernah bekerja di bidang penjualan sekalipun-. Sebagai seorang entrepreneur, pekerjaan Anda adalah 'menjual'. Menjual produk Anda, visi perusahaan dan diri Anda sendiri. Dan Anda harus melakukan ini setiap hari, dalam setiap waktu. Jika Anda menikmatinya, Anda memang seorang
entrepreneur sejati. :-)
Anda, jika Anda menjawab YA pada sebagian besar pertanyaan-pertanyaan di atas, berarti Anda memiliki karakter entrepreneur dan siap untuk memiliki bisnis sendiri.
Tetapi jika sebagian besar jawabannya adalah TIDAK,sebaiknya pertimbangkan untuk menggaet partner bisnis untuk membantu membuat rencana bisnis Anda menjadi kenyataan. :-)
Labels: kompunet
Baca selengkapnya.....
Hampir semua orang punya cita-cita ingin memiliki bisnis sendiri.Tapi sering kali, mereka bingung bagaimana memulainya, bisnis apa yang harus mereka geluti dan bagaimana pula prospeknya.Kebetulan "INC" -media bisnis terkemuka di Amerika- belum lama ini merilis informasi penting bagi para pebisnis yang ingin mengetahui bisnis yang prospeknya paling menjanjikan hingga lebih dari 10
tahun mendatang. Mereka adalah:
=> Internet Bisnis, data processing dan jasa informasi lainnya
=> Sistem komputer dan jasa yang berhubungan dengannya
=> Sofware
=> Jasa ketenagakerjaan
=> Konsultasi: management,science, dan teknis
=> Home Health Care
=> Jasa penasihat keuangan pribadi
=> Jasa perawatan anak
=> Seni, hiburan dan rekreasi
=> Film/video
Dari data tersebut, terlihat bisnis nomor SATU yang paling menjanjikan hingga lebih dari 10 tahun mendatang adalah internet bisnis
Revolusi informasi memang tengah berjalan. Seperti juga ketika mobil yang merevolusi kereta kuda, kamera digital yang mulai menggantikan kamera manual dan kini INTERNET juga telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam mencari informasi dan berbisnis.
Dan sekarang kita atau setidaknya anak muda sekarang yang menjadi future market- semakin sering mendengar kata-kata seperti ini,'Lihat di internet aja' atau 'Cari di internet aja'.
Apapun, mulai dari membandingkan harga gadget, booking tiket pesawat, lihat berita terkini, lihat iklan penjualan rumah atau mobil, beli macam-macam barang, dan masih banyak lagi. "Apapun bisnisnya", internet tempat jualannya :-)
Internet memang tempat menjadi pemasaran produk dan jasa yang paling menjanjikan saat ini. Karena jangkauan yang luas,ke seluruh dunia. Selain itu juga karena pasarnya yang tertarget dan sistem otomatisasinya, membuat pemasaran jadi lebih efektif dan efisien dari segi biaya, waktu dan tenaga.
So....ayo mengenal internet lebih dalam dan ajak teman,saudara,tetangga dan kerabat kita yang masih gaptek untuk mengenal dunia internet.
Labels: kompunet
Baca selengkapnya.....
Apa kabar teman-teman ? Mohon maaf kepada para pengunjung blog ini karena beritanya sudah laaaamaaaaa ga diupdate.terima kasih buat Bang MT yang telah mengingatkan saya untuk mengupdate blog ini.Kesibukan termasuk " mengelola" beberapa web membuat saya nggak sempet untuk mengupdate blog ini.Termasuk ketika tadinya mau "pensiun" dari beberapa organisasi,eh....sekarang malah aktif lagi...susyah....:D
Alhamdulillah walaupun dah lama ga diupdate , dari email yang masuk ternyata dari artikel-artikel yang saya posting banyak mendapatkan komentar terutama posting tentang sholat tahajud.Namun jujur kemungkinan faktor utama ga diupdate karena saya belum bisa fokus, kadang agak bosenan juga...:D,memang segala sesuatu yang baik perlu disiplin dan keisitqomahan ya.
Saya mulai postingan ini dengan judul Bismillah,mudah-mudahan dengan diawali sesuatu yang baik maka apaupun yang terjadi kedepannya insyaalloh akan baik.Amiiin
Labels: pribadi
Baca selengkapnya.....

Syahdan di suatu samudera terdapat dua pulau yang bertetangga. Sebut saja Pulau Aya dan Pulau Baya . Di pulau Aya, suku Sukus hidup sejahtera. Mereka dikarunia daratan yang subur. Mereka hidup bercocok tanam. Pertanian mereka menghasilkan aneka sayuran dan buah¬-buahan tropis. Ikan dan sumber daya laut sangat melimpah. Tidak hanya itu, Pulau Aya terkenal dengan panoramanya yang indah. Gemericik air terjun bisa ditemui di banyak tempat. Sungai¬-sungainya yang jernih juga menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran bila pulau ini menjadi tempat tujuan para pelancong dan wisatawan lokal maupun luar pulau.
Masyarakat Sukus dikenal memiliki peradaban yang cukup maju. Mereka beruntung, pulau yang mereka tempati menghasilkan emas. Dan mereka bekerja keras untuk mendapatkan logam mulia ini. Hampir semua anggota suku memiliki emas dan menyimpannya sebagai simbul harta kekayaan.
Selain sebagai simbul peradaban, emas juga berfungsi sebagai alat transaksi. Sejak Saka, sang ketua suku, mencetak koin emas, maka semua transaksi jual beli yang semula dilakukan dengan barter beralih dan diukur dengan emas. Berdagang pun menjadi lebih mudah dan simpel.
Meskipun begitu, mereka tidak mendewa-¬dewakan emas sebagai satu-satunya pencapaian. Kehidupan sosial mereka tampak lebih penting. Ini bisa dilihat dari cara mereka yang saling tolong-menolong. ( Kami di dunia setan sangat membenci perilaku ini ). Ketika anggota suku perlu membangun rumah baru karena rumah lama tersapu ombak, yang berarti menguras emas simpanannya, anggota-anggota suku lainnya dengan suka rela meminjamkan emas miliknya. Hebatnya, tanpa charge atau tambahan apapun. "Dasar manusia bodoh, sudah me¬minjamkan uang kok tidak mau minta kom¬pensasi," begitu gerutuan kami.
Kami semakin pusing karena tidak terbatas itu saja, mereka juga bergotong royong satu sama lain dengan ikhlas. Padahal kami ingin, paling tidak, mereka lakukan ini dengan riya. Pantas¬lah bila kehidupan mereka meskipun sederhana tapi diliputi semangat kesetiakawanan yang tinggi. Anggota suku terbiasa bahu-membahu mengatasi persoalan bersama. Boleh dikata, mereka hidup rukun dan damai.
Sementara pulau tetangganya, Pulau Baya, didiami suku Tukus. Kebanyakan penduduk¬nya bekerja sebagai petani. Mengolah lahan di sawah atau ladang dan memelihara ternak. Sebagian lagi yang memiliki ketrampilan khusus, memproduksi kerajinan tangan.
Dibandingkan suku Sukus, mereka lebih sederhana. Mereka masih menggunakan sistem barter dalam transaksi keseharian. Yang meng¬hasilkan padi menukar berasnya dengan ke¬rajinan tangan atau sebaliknya. Boleh dibilang secara ekonomi, kesejahteraan mereka di bawah suku Sukus. Mereka memang kebanyakan hanya pekerja kasar. Mereka tidak memiliki pusat kota yang indah dan maju seperti halnya Sukus. Sesekali mereka menjual hasil bumi dan handicraft mereka ke suku Sukus. Mereka, apalagi para wanitanya, sangat senang me¬nerima koin emas sebagai jasa dari padi atau kerajinan tangan yang mereka hasilkan. Meski¬pun berbeda dalam hal kesejahteraan, ada satu persamaan menonjol di antara Sukus dan Tukus. Mereka sama-sama hidup damai, rukun, dan saling tolong-menolong. Mereka sering .bersilaturahmi dan menjalankan ritual agamanya dengan tenang.
Sampai akhimya datang tamu istimewa ke suku Sukus. Berpenampilan perlente, dua orang asing turun dari kapal yang berlabuh di pulau Aya. Gago dan Sago, begitu mereka mengenal¬kan diri saat dijamu oleh Saka, pimpinan suku Sukus. Kedua tamu ini disambut dengan suka cita. Saka dan para pembantunya sangat terkesan dengan kisah Gago dan Sago yang mengaku sudah melanglang buana. Sebagai bukti, kedua orang asing itu lalu memamerkan koin emas asing yang mereka kumpulkan dari berbagai tempat perlawatan.
Satu hal lagi dan ini yang paling menarik bagi Saka dan punggawanya adalah kertas yang dinyatakan sebagai uang. Gago dan Sago lalu memperkenalkan bagaimana uang kertas jauh lebih efisien ketimbang emas yang sehari-hari mereka pakai. Itulah kenapa uang kertas ini sudah dipakai di negara-negara yang jauh lebih maju dibanding tempat mereka tinggal. Gago dan Sago yang mulai mendapat respon positif semakin bergairah menjelaskan uang kertas ini kepada sang tuan rumah. Lalu, mereka mem¬perkenalkan mesin pencetak uang.
"Gambar Anda nanti akan terpampang dalam lembar uang kertas ini," Gago menunjuk uang kertas sembari menyunggingkan senyum kearah Saka.
"Benarkah?" sela Saka berbinar. Dalam hati Saka girang bukan kepalang. Seumur hidupnya, tidak ada orang yang memberikan penghormat¬an sebagaimana dua tamu istimewanya.
Kami pun membisikkan ke dada Saka,"Hai Saka, kalau uang kertas bergambarkan dirimu diterbitkan, pasti kamu menjadi manusia terkenal hingga daratan yang pernah disinggahi para tamumu yang luar biasa itu."
"Seratus persen Anda akan menjadi orang terkenal!" Sago menimpali sembari mengangkat dua ujung jempol tangannya ke atas. Sago memang agen tulen kami. Tanpa kami bisikan sesuatu, la sudah tahu apa yang harus diper¬buat. Dan pujian itu pun melambungkan angannya. Ha.ha..ha...pancingan Gago dan Sago mengena. Dua agen kami ini pun semakin antusias meyakinkan suku Sukus bahwa mata uang kertas akan sangat membantu membuat perekonomian mereka efisien.
Dan untuk kepentingan itu, sebuah institusi bernama bank perlu didirikan. Bank akan me¬nyimpan deposit koin emas mereka yang menganggur (idle). Lalu, uang deposan ini sebagai taktik, ya hanya sekedar taktik bisa dipinjamkan kepada anggota suku Sukus yang memerlukan. Dengan demikian, kesannya semua sumber daya yang ada rnenjadi optimal karena dialokasikan untuk kegiatan ekonorni produktif.
Suku Sukus yang terkenal suka. membantu„ sangat impresif dengan ide itu. Mereka pikir lembaga ini sangat luar biasa karena bisa me¬lanjutkan tradisi mereka untuk membantu orang lain. J'adilah ide itu diamini dan cliilanjutkan dengan mendirikan bangunan yang di¬fungsikan sebagai bank yang pertama di Pulau Aya .
Upacara pembukaan perdana bank Aya,sebut saja begitu, sangat meriah. Orang sepulau tumplek blek jadi satu, rnerayakan hari yang bersejarah itu, Sebagian besar dari mereka sudah membawa koin emas yang selama ini disimpan dibawah bantal. Setiap satu koin emas yang mereka simpan, mereka men¬dapatkan ganti uang kertas dengan jaminan bila sewaktu-waktu mereka menghendaki, mereka bisa menukarkan kembali uang kertas yang saat ini mereka terima dengan koin emas yang pernah mereka simpan.
Hampir semua anggota suku Sukus menyimpan koin emas mereka di Bank Aya. Sejumlah 100.000 lembar uang kertas diserahkan, yang berarti Bank Aya yang dimotori Gago dan Sago rnenerima 100.000 koin emas. Tak terasa, akhirnya penduduk negeri Pulau Aya begitu menikmati uang kertas itu. Mereka merasakan, dengan menggunakan uang kertas itu, transaksi yang mereka lakukan jauh lebih simpel dan nyaman.
Praktis sernakin jarang orang yang menggunakan koin emas dalam transaksi sehari-hari. Sampai akhirnya uang kertas menjadi mata¬ uang dominan .Kenapa mereka begitu ? Karena selain lebih memudahkan transaksi.,mereka juga bisa dengan mudah menukarkan uang kertas mereka dengan koin emas jika mereka memerlukan. Untuk yang satu ini, Gago dan Sago sangat menjaga kepercayaan. Setiap kali ada yang mau menukarkan, kali itu juga koin emas diberikan. Demikian seterusnya sehingga lama¬-lama orang tidak khawatir dengan uang kertas miliknya. Toh kalau mereka mau, mereka bisa menukarkannya sepanjang waktu.
Perkembangan ini temyata menjadi berita di mana-mana. Suku Tukus yang mendiami pulau Baya, diam-diam memuji dan ingin sekali praktik yang sama juga diterapkan di pulau mereka. Bayangkan, dari semula melakukan jual beli dengan cara barter, tiba-tiba ada sistem super canggih yang bisa membantu mereka melaku¬kan transaksi dengan sangat mudah dan efisien.
Tak sabar, mereka mengutus duta menemui Gago dan Sago. Mereka minta agar sistem yang mereka bawa juga bisa diterapkan di Pulau Baya. Gago menyanggupi. Dia meminta Sago untuk membuka cabang Bank Aya di Pulau Baya dan mengangkat Sago sebagai manajernya. Hanya bedanya, di sini hanya se¬dikit penduduknya yang memiliki koin emas.
"Anda tidak perlu kecil hati," kata Sago meng¬hibur."Tanpa koin emas pun Anda bisa meng¬enyam kenikmatan sebagaimana tetangga pulau Anda," dia bermanis-manis menerangkan. Tentu saja keterangan ini disambut gembira oleh penduduk Pulau Baya.A ha!, Sago betul-betul agen kami yang cemerlang. Otak bulusnya benar-benar tidak menyimpang dari program yang sudah kami tanamkan: ke¬serakahan.
Begitulah,mulailah Sago membagikan uang kertas. Ada 100 kepala keluarga di pulau itu. Setiap kepala keluarga diberikan 1000 lembar uang. Jadi total uang yang tersirkulasi di pulau Baya mencapai 100.000. "Karena Anda tidak me¬nyimpan koin emas seperti halnya penduduk pulau seberang, sebagai gantinya, Anda bisa menggunakan uang yang telah saya bagikan."
Apa yang dikatakan Sago itu disambut dengan senang. Tepuk tangan riuh membahana. Mereka bersyukur, sebentar lagi negeri mereka tidak akan sekolot dan seprimitif tempo hari. Namun, Sago kemeriahan itu sempat hening ketika Sago menyela," Harap diingat. Uang yang saya bagikan tadi tidak gratis. Ini adalah pinjaman. Nanti setelah setahun dari saat ini, Anda harus mengembalikan uang ini plus 100 lembar uang tambahan."
"Kenapa harus ada tambahan 100? Kenapa tidak mengembalikan sejumlah yang kami pinjam?" seorang pemuka suku Tukus menyela.
"Huuh ! Dasar manusia bebal," umpat kami yang tak sabar mendengar jawaban cerdas dari Sago.
"Betul Anda memang hanya meminjam 1000.Yang 100 itu adalah untuk membayar jasa yang kami sediakan," ujar Sago dengan senyum lepas menjelaskan. Penjelasan brilian! Kami turut puas. Tak terasa air liur kami berloncatan di sela-sela taring-taring kami yang panjang menunggu agar para manusia bodoh itu tak lagi rewel menyoal tambahan yang wajar.
Meski ada yang masih mengganjal,penjelasan Sago cukup tepat untuk membungkam naluri kritis warga Tukus.itu terlihat dari tak surutnya minat warga Tkus untuk mengambil tawaran Sago.Paling tidak, mereka bisa merasakan mudahnya bertransaksi dengan uang kertas.Dan yang lebih penting lagi, menikmati status sebagai warga dunia baru ( Ingat program Iblis : Tatanan dunia baru ).Modern dan prestisius.
Setelah sekian lama, dua agen kami itu mulai memainkan kartu truf. Dari pengamatan Gago, dipulau Aya rata-rata hanya sekitar 10 persen uang kertas yang ditukarkan ke koin emas pada setiap waktu.Sisanya 90 persen tetap berada dikotak penyimpanan Bank Aya. Mencermati bahwa uang kertas mereka sudah merajai alat tukar, kami pun tergelak.
"Hai Gago, kenapa tidak kau cetak uang lagi? Bukankah hanya sedikit dari meraka yang menukarkan uang kertasnya dengan koin emas? Bukankah kau bisa meraup untung luar biasa dengan cara ini? Ayolah kawan, tunjukkan otak cerdasmu," begitu kami tak henti menggelitiki Gago.
Dan benar, Gago memang agen kami yang jempolan. la lalu mencetak uang kertas lebih banyak. Tidak tanggung-tanggung hingga 900.000. Dalam kalkulasinya, jumlah ini, di¬tambah jumlah uang kertas yang telah dibagi¬kan sebelumnya, totalnya 1.000.000. Kalau ada orang yang datang hendak menukarkan uang kertas ini, berdasarkan pengalaman yang sudah¬-sudah hanya 10 persen saja. Nah, kalau ini yang terjadi, bukankah la menyimpan 100.000 koin emas, yang tidak lain adalah koin yang telah disetor oleh seluruh penduduk Sukus? Kalau hitung-hitungan pahit itu benar-benar terjadi, bukankah cadangan koin emas yang diperlukan sudah cukup?
Fantastic! Creating Money from nothing! Menciptakan uang dari kekosongan. Hanya orang-orang seperti Gago, kawan kami, yang bisa. Begitulah. Akal bulus Gago bergerak. la pinjamkan 900.000 uang kertas yang baru dicetaknya kepada warga Sukus yang me¬merlukan. Kalau di pulau Baya, Sago rnengutip tambahan ekstra sebesar 10 persen dari pokok, nah Gago meningkatkan kutipan hingga 15 persen. Artinya kalau seseorang meminjam 1000 lembar uang kertas, di akhir tahun la harus mengembalikan 1150 uang kertas, dimana 150-nya adalah charge dari layanan yang kami berikan.
Hari pun berganti. Bulan berjalan begitu cepat.Tak terasa setahun pun lewat. Apa yang terjadi dengan suku Sukus dan Tukus? Pelan tapi pasti, penduduk pulau Aya merasakan harga-harga kebutuhan barang dan jasa mereka naik. Mereka tidak tahu apa penyebabnya. Banyak di antara orang yang meminjam uang dari Gago meng¬alami gagal bayar. Mereka bukan orang pemalas atau penganggur. Tapi meski telah bekerja keras, mereka masih kesulitan melunasi utang berikut bunganya. Dan mereka memang tidak akan pernah bisa. Bahkan ketika mereka menjadikan 24 jam untuk bekerja. Lihatlah, uang yang di¬pinjamkan 900.000 bila ditambah bunga 15 persen, berarti senilai 135.000 atau jumlah total mencapai 1.135.000. Padahal, jumlah uang yang beredar hanya 1.000.000 ( 100.000 diberi¬kan sebagai ganti 100.000 keping koin emas,ditambah uang baru 900.000 yang dicetak Gago).
Dan inilah panen raya yang kami tunggu. Kesuk¬sesan Gago dan Sago.kami sebut begitu,karena sistem yang dikenalkan dua agen top kami itulah yang pertama kali mengubah watak bisnis kekeluargaan menjadi bisnis yang individual kompetitif. Kehidupan sosial mereka yang harmonis, penuh toleransi dan tolong menolong, perlahan luntur. Masing-masing kepala ,apalagi yang berhutang harus bekerja keras demi mengejar uang untuk melunasi kewajibannya. Sehingga, ketika ada ombak besar menyapu sebagian rumah penduduk, kebiasaan mereka untuk saling bantu luntur.Prinsip saling membantu berubah menjadi : Time is money. Membantu orang boleh tapi harus ada kompensasinya : UANG.Sisi kehidupan sosial yang akrab perlahan berubah menjadi individual.Masing-maasing mulai terbebani untuk berusaha keras demi kepentingan masing-masing.Sungguh perubahan yang sulit sekali kami capai sendirian,bila tanpa dua kaki tangan kami si Gago dan Sago.
Hal yang sama pun dialami Suku Tukus. Awalnya mereka tidak menyadari. Namun, lambat laun mereka merasakan perubahan. Kebutuhan pokok yang dulunya cukup ditukar dengan barang kerajinan atau sebaliknya, kini mulai sedikit bermasalah. Mereka tidak tahu kenapa tanpa terasa, dengan berlalunya waktu, harga-harga terus merambat naik. Padahal, mereka telah membanting tulang dan bekerja lebih keras. Kerjasama antar warga yang semula menjadi tradisi, lama-kelamaan juga mulai luntur. Mereka menjadi egois, diburu kebutuhan masing-masing. Toh di akhir tahun tidak semua bisa membayar kewajibannya. Seperti dialami suku Sukus, suku Tukus pun anggotanya banyak yang default alias gagal bayar.
Melihat perkembangan ini, kami di dunia setan pun bersuka ria. Betapa tidak, dimana kerakus¬an menjadi idiologi, di situlah singgasana kami dibangun. Karena itu, kami pun semakin rajin membisiki Gago dan Sago untuk tidak hanya berhenti di sini saja. Tapi untuk semakin me¬nguasai manusia-manusia bodoh yang dulunya berlagak saling bantu itu.
Gago dan Sago memang sangat impresif. Mereka adalah ciptaan jenius. Terbukti ketika mereka melancarkan dua trik lanjutan untuk memenangkan keadaan. Kepada para penunggak sebagian ada yang dipaksa membayar. Caranya, dengan menyita harta benda mereka. Rumah, sawah, ternak dan maupun harta benda lainnya pun segera berpindah tangan. Sementara penunggak yang mempunyai hubungan baik dengan Gago dan Sago diberi kesempatan untuk memper¬panjang masa angsuran. Kebetulan Taka, pim¬pinan suku Tukus, salah seorang di antara pe¬nunggak. Maka untuk atas nama "kebaikan hati" Sago bukan saja memberikan tambahan waktu mengangsur utang, tapi juga memberi¬kan tambahan utang baru. Kenapa? Dia ber¬alasan utang ini biar bisa dipakai untuk me¬lancarkan kegiatan produktifnya. Namun alih¬-alih bisa membayar periode berikutnya, Taka kembali tak bisa melunasi utangnya.
Malu karena tak bisa membayar kewajiban, Taka menarik diri dan menghindari bertemu dengan Sago. la mulai kehilangan kepercayaan diri. Kewibawaannya sebagai kepala Suku Tukus berbalik ke titik nadir. Sementara, Sago yang semula berlagak membantu, kini tinggal melakukan eksekusi. la semakin kaya. la pun berubah lagaknya Tuan Besar. Ha..ha..ha... Dalam dunia kami, kedua agen ini memang layak sombong. Karena kepintaran dan ke¬jeniusannya. Hanya orang-orang dengki saja yang menyebut cara-caranya menguasai manusia-manusia bodoh itu sebagai keculasan. Tidak bermoral? Ini hanya retorika gombal, persetan dengan moral.
Setelah beberapa tahun berselang, Gago dan Sago yang semula datang ke Aya dan Baya dengan modal mesin pencetak uang, kini telah menjadi pemilik hampir semua kekayaan di dua pulau tersebut. Mereka menguasai ekonomi dan properti. Lambat laun, dengan uang, mereka pun beroleh kekuasaan baru: menguasai politik negeri itu.
Sementara masyarakat dua pulau itu tinggallah sebagai pekerja kasar. Kemiskinan tiba-tiba seperti menjadi endemik yang terus menyebar cepat. Mereka bekerja keras, untuk hasil yang sedikit. Mereka kehilangan waktu untuk saudara dan tetangga. Mereka semakin jarang melaku¬kan upacara keagamaan. Lebih parah lagi, mereka semakin tidak perhatian satu sama lain.
Kejahatan yang semula hanyalah cerita yang sering mereka dengar dari negara antah berantah, kini menghampiri marak di depan hidung mereka sendiri. Karena tidak bisa bayar utang, mereka mengorbankan anak dan bahkan istri¬nya untuk diperbudak. Prostitusi yang semula begitu tabu bagi mereka, seperti menjadi budaya baru. Semua budaya yang datang dari Gago dan Sago, dianggap superior. Budaya lokal pun lambat laun punah. Gago dan Sago telah me¬nguasai semua, tak ada yang tersisa: ekonomi, budaya, kekuasaan, dan keadilan yang bisa mereka beli melalui uang.
Namun in] bukan akhir petualangan mereka. Mereka tak hanya ingin menaklukkan dua pulau Aya dan Baya. Mereka ingin semua pulau di dunia berada dalam pengaruh kekuasaan mereka. Target mereka bukan untuk menakluk¬kan tentara musuh di negara-negara jauh. Tapi, menaklukkan ekonomi mereka. Membuat mereka terkesan, lalu ketika saatnya tiba, mencekik mereka dengan sekali hentak: melaiui uang kertas tanpa jaminan, aturan cadangan 10 persen, dan bunga. Tiga kombinasi jurus ini, sudah terbukti ampuh. Setidaknya, dua penduduk negeri sudah mereka kuasai.
Perangkap inilah yang dengan cerita dan intensitas berbeda terjadi dalam krisis di Asia Tenggara. Cara-cara yang sama akan terus kami kembangkan, sehingga segelintir agen kami yang berkuasa, menyisakan masyarakat banyak yang hidup sengsara. Kalau di kawasan itu se¬karang sudah mulai recovery, sasaran bisa dialihkan ke tempat lain. Boleh juga, di kawasan yang sama, tentu menunggu saat yang tepat muncul kembali. Saat-saat balon ekonomi dan keuangan tak lagi bisa menggelembung. Saat¬-saat ketika manusia kelimpungan. Saat-saat ketika kami untuk kesekian kali merayakan kemenangan karena tiga pilar utama setan - fiat money, fractional reserve requirement, dan interest-berhasil menggoyang ekonomi.
Di sadur dari : Satanic Finance – True Conspiracies
Sebagai bahan renungan bagi Bangsa Indonesyia
Baca selengkapnya.....
Kartu SelularKu ( minta pendapatnya )
3 Comments Published by Dhyan Ha on Wednesday, May 21, 2008 at 1:22 PM.
Kali ini saya ingin berbagi pengalaman sekaligus mohon komentar dan pengalaman dari para pembaca berkaitan denagn kartu selular.Saat ini saya memakai dua kartu selular, satu XL bebas dan satunya lagi Esia.Dulu ketika awal-awal orang ramai memakai/mempunyai 2 nomor saya hanya berpikir bahwa itu suatu pemborosan.Dengan berjalannya waktu ketika CDMA mulai unjuk tarif ( terutama saat itu Esia ) saya "terpengaruh" iklannya.Setelah dipikir2 dengan selisih harga yang waktu itu cukup jauh, saya putuskan untuk beralih ke Esia dan meninggalkan kartu Xl bebas saya. Beberapa saat saya sempet menikmati murahnya esia, tapi....setelah beberapa bulan mulai timbul masalah.Dari mulai Operator Customer servicenya yang susah dihubungi ( s/d saat ini tuh ), ketika saya tanya ke Gerainya CSnya bilang bahwa saat ini Esia sedabng mengembangkan jarinagnnya di Indonesia Timur sehinga banyak layanan-layanannya yang terganggu.Saat itu sih saya iyain aja dan mencoba bersabar semoga bener ga lama lagi akan kembali normal.Tapi....setelah ditunggu berbulan-bulan tetap banyak masalah,terus samapai kapan nih ? ( moga-moga orang Esianya baca nih....:D ).Tidak sampai disitu saja,saat ini sudah beberapa kali entah kenapa sisa pulsa saya tiba-tiba selalu menjadi 0 rupiah.Akhirnya sekarang saya jadi agak malas untuk isi ulang, abis tiba2 pulsanya jadi Rp. 0 ,- terus.Dan saya pikir-pikir lagi karena sekarang harga GSM dan CDMA sudah mulai bersaing kemungkinan Esianya saya tutup ajalah trus HPnya
dijokul aja lumayan buat nambahin beli HP GSM baru...:D.Terus bagaimana dengan XL ? Saat ini saya sering mengalami masalah ketika ditelfon atau menelfon.Seringkali suara hilang ( padahal masih konek ) jadinya yang keluar " hallo...hallo.....".Tadinya saya pikir mungkin HP saya yang agak error dan perlu diganti tapi.......setelah saya tanya ke beberapa teman ternyata...masalahnya hampir sama.Ada apakah gerangan ini ? Apakah ini ulah XL ( moga2 orang XLnya denger nih..:D ).
So...teman2 saya minta pendapat,pandangan dan pengalamannya tentang masalah ini.Saya tunggu ya......bagi komentar terbaik saya kasih "hadiah deh "........Hadiahnya.....Senyuman dan ucapan Terima kasih......:D
Labels: cerita
Baca selengkapnya.....
Alhamdulillah setelah sebelumnya didera musibah hingga hancur berkeping-keping ( beneran lihat aja gbrnya ).Ya...basecamp Indico beberapa bulan kemarin terkena musibah yaitu tertimpa pohon besar yang tumbuh dibelakang bangunan ( pemakaman umum )Walaupun tidak ada korban jiwa,dua orang teman kami yang ketika kejadian berada didalam mengalami luka-luka ringan.Alhamdulillah saat ini Indico mencoba bangkit dengan format baru yang sebelumnya hanya sebagai komunitas kini mencoba memantapkan diri di jalur LPK Komputer ( nantikan cerita plus foto2nya di edisi selanjutnya ).Mohon Doanya semoga kami bisa exist dan bermanfaat buat khalayak.Jabat erat
Baca selengkapnya.....




